MANAJEMEN PADA ASPEK LINGKUNGAN / MASYARAKAT

0

Lingkungan adalah segala sesuatu yang adadan terjadi di sekeliling proses pendidikan itu berlangsung yang terdiri dari manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan benda-benda mati. Keempat benda-benda lingkungan pendidikan tersebutikut berperan dalam rangka setiap siswa/mahasiswa mengembangkan dirinya. Tetapi menejemen pendidikan menaruh perhatiannya terutama kepada lingkungan yang berwujud manusia atau masyarakat.
Seperti diketahui bahwa tugas menejemen antara lain adalah mengintegrasikan sumber-sumber dan memanfaatkannya seoptimal mungkin. Sumber-sumber pendidikan ini dapat saja diambil dari lingkungan sekolah / kampus dan bisa berupa keempat kelompok benda-benda lingkungan di atas. Namun sumber-sumber pendidikan tersebut biasanya secara langsung ditangani oleh guru-guru dalam usaha mereka meningkatkan proses belajar mengajar masing-masing. Menejer hanya memberi petunjuk umum saja.
Perhatian menejer terpusat kepada kelompok manusia ata masyarakat lingkungannya. Sebab hanya masyarakatlah yang bisa diajak berbicara tentang hal-hal yang menangkut pendidikan, termasuk menunjukkan binatang, tumbuh-tumbuhan, dan benda-benda mati apa yang ada di sekitar mereka yang bisa di pakai bahan untuk belajar. Anggota masyarakat inilah teman menejer yang bisa di ajak merencanakan, mengkoordinasi, dan bahkan dapat ikut mengontrol jalannya pendidikan.
A. MEENGAPA MENEJEMEN PENDIDIKAN MENANGANI MASYARAKAT
Pada beberapa uraian yang lampau di katakan bahwa organisasi pendidikan adalah merupakan suatu sistem yang terbuka. Sebagai sistem terbuka, berarti lembaga pendidikan selalu mengadakan kontak hubungan dengan lingkungannya yang disebut sebagai suprasistem.kontak hubungan ini dibutuhkan untuk menjaga agar sisttem atau lembaga itu tidak mudah punahatau mati.
Hanya sitem terbuka yang memiliki negentropy, yaitu suatu usaha yang terus menerus untuk menghalangi kemungkinan terjadinya entropy atau kepunahan ( Immegart, 1972, h. 44 ). Ini berarti hidup atau matinya sistem ( lembaga pendidikan ) itu sebagian terbesar ditentukan oleh usaha lembaga itu sendiri. Negentropy itu melekat pada mekanisme kerjanya yang selalu menyangkutkan diri kepada dunia luar sebagai lingkungannya.
Konsep ini bisa dicocokkan dengan praktek-praktek pebdidikan yang telah terjadi. Sekolah yang tidak punya punya nama baik di matamasyarakat dan akhirnya mati., adalah sekolah yang tidak mampu membuat hubungan baik dengan masyarakat pendukungnya. Dengan berbagai sebab masyarakat tidak mau menyekolahkan anaknya ke sekolah tersebut, sehingga memnuat sekolah tersebut tidakmedapatkan siswa.
Sebaliknya sekolah yang mampu mengadakan kontrak hubungan dengan masyarakat akan bisa bertahan lama, malah bisa maju terus. Biarpun pada awalnya sekolah tersebut belum banyak memiliki fasilitas, dana masih kecil dan sebagainya, namun karena kemampuan menejernya mendekati para dermawan , orang-orang yang berpengaruh, orang-orang yang cinta akan pendidikan, dan disertai dengan himbauan-himbauannya yang memikat dan rasional, maka sekolah itu bisa bertahan lama. Daya tahan ini semakin kuat apabila sekolah itu telah mampu menunjukkan mutunya dihadapan masyarakat. Masyarakat akan berbondong-bondong memasukkan puteranya ke sekolah itu. Kini sekolah itu menjadi besar dan maju.
Sejalan dengan konsep da atas pemerintah menyerukan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama antar pemerintah, orang tua, dan masyarakat. Seruan ini mengisyaratkan bahwa lembaga pendidikan hendaknya tidak menutup diri, melainkan selalu mengadakan kontak hubungan dengan dunia luar yaitu orang tua dan masyarakat sekitar sebagai teman penanggung jawab pendidikan. Dengan kedua kelompok inilah sekolah/perguruan tinggi bekerja sama mengatasi problem-problem pendidikan yang muncul danmemajukannya.
Kaufman ( 1972, h. 30 ) menyebut partner pendidikan tidak terdiri dari ketiga kelompok di atas , melainkan terdiridari para guru, para siswa, dan para orang tua/ masyarakat. Mungkin ia berpendapat bahwa pemrintah telah diwakili oleh para guru atau mungkin ia menekankan agar sekolah-sekolah bersifat desentralisasi sehingga tidak perlu banyak dicampuri oleh pemerintah. Apapun alasannya, yang jelas orang tua/masyarakat dipandang sebagai salah satu partner pendidikan.pandangan ini persisi sama dengan pandanga di atas.
Dengan demikian tampaklah bahwa lembaga pendidikan itu bukanlah badan yang berdiri sendiri dalam membina dan mengembangkan putra-putra bangsa. Melainkan ia merupakan suatu bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat yang luas. Ia sebagai sistem yang terbuka, yang selalu mengadakan kerja sama dengan masyarakat lainnya, secara bersama-sama membangun dibidang pendidikan . hal ini sangat mungkin dilakukan sebab masyarakat sangat sadar akan manfaat pendidikan sebagai modal utama dalam membangun dan memajukan bangsa termasuk masyarakat / keluarga itu sendiri. Mereka pada umumnya menaruh perhatian besar pada pendidikan putra-putranya.
Bila lembaga pendidikan terbuka bagi para siswa/mahasiswa, maka begitu pula hendaknya bagi masyarakat ( Whitt, 1971, h. 18 ). Bukan hanya pada warga masyarakat yang ingin belajar, tetapi juga bagi mereka yang menaruh perhatian terhadap pendidikan. Semangat dan i’tikad mereka perlu disalurkan, diterima sebagai teman seperjuangan dalam memajukan pendidikan.
Faktor pendukung dari luar lembaga ini didasari oleh para menejer pendidikan sebagai hal yang harus diperhatikan. Faktor yang cukup berarti ini perlu ditangani dengan baik, tidak boleh disia-siakan. Menejer pendidikan perlu bekerja sama dengan masyarakat lingkungannya dalam rangka memajukan pendidikan.
B. HUBUNGAN LINGKUNGAN PENDIDIKAN DENGAN MASYARAKAT
Ada hubungan saling memberi dan saling menerima antar lembaga pendidikan dengan masyarakat sekitarnya. Lembaga pendidikan merealisasi apa yang dicita-citakan oleh warga masyarakat tentang pengembangan putra-putra mereka. Hampir tidak ada orang tua siswa yang mampu membina sendiri putra-putra mereka untuk dapat tumbuh dan berkembang secara total ,integratifn, dan oftimalseperti yang dicita-citakan oleh bangsa indonesia. Itulah sebabnya lembaga-lembaga pendidikan mengambil alih tugas ini. Lembaga pendidikan memberikan suatu yang sangat berharga kepada masyarakat .
Di sampin layanan terhadap masyarakat berupa pendidikan dan pengajaran terhadap putra-putra warga masyarakat , lembaga pendadakan juga menyediakan diri sebagai agan pembaru atau mecu penerang bagi masyarakat . banyak hal baru yang bermanfaat bagi masyarakat yang bersumber dari lembaga pendidikan, disamping dari sumber sumber lain. Pemanfaatan ampas debu sebagai pupuk, penemuan-penemukan padi padi unggul , cara memberantas hama, cara memelihara ternak, penemuan,penemuan teknik sederhana untk pedesaan , dan sebagainya adalah contoh-contoh realisasi lembaga pendidikan sebagai agen pembaharu.
Lembaga pendidik sesungguhnya melaksanakan tugas rangkap terhadap masyarakat yaitu membri layanan dan sebagai agen pembaharu atau penerang, yang oleh stoop disebut sebagai layanan dan fungsi pemimpin. Dikatakan sebagai fungsi layanan karena ia melayani kebutuhan-kebutuha masyarakat, dan disebut sebagai pemimpin karena ia memimpin masyarakat disertai dengan penemuan-penemuannya untuk memajukan kehidupan masyarakat.
Fungsi layanan ini tidak hanya terbatas kepada pemberian pendidikan dan pengajaran kepada para putra warga masyarakat tetapi juga melayani aspirasi daerah-daerah lain yang tidak sama, yang membuat masing-masing daerah memiliki kebutuhan sendiri-sendiri. Lembaga pendidikan siap melayani kebutuhan masing-masing daerah ini. Lembaga pendidikan berusaha mencetak enaga-tenaga menengah atau tenaga-tenaga ahli yang sesuai dengan kebutuhan setiap daerah.
Itulah yang bisa diberikan oleh lembaga pendidikan kepada masyarakat. Sebaliknya masyarakat juga memberikan sesuatu yang tidak kalah pentingnya daripada pemberian lembaga pendidikan kepadanya. Pemberiah itu berupa tanggung jawab bersama . masyarakat yang terbina dengan baik akan merasa bahwa lembaga pendidikan itu adalah juga miliknya yaitu milik bersama, yang mereka rasa perlu untuk dipelihara, dipertahankan, dimajukan, mirip seperti memelihara dan memajukan keluarga beserta tempat tinggal mereka sendiri. Sebab tanpa ada lembaga pendidikan mereka yakin bahwa keluarga dan keturunan mereka mungkin tidak akan bisa hidup maju, enak, dan bahagia.
Selanjutnya dengan mengadakan kontak hubungan dengan masyarakat memudahkan organisasi pendidikan itu menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi lingkungannya. Lembaga pendidikan lebih mudah menempatkan dirinya di masyarakat dalam arti dapat diterima sebagai bagian dari milik warga masyarakat. Lembaga pendidikan dapat mengikuti arus dinamika masyarakat dan lingkungannya.
Pendekatan situasional di atas memang diperlukan oleh lembaga pendidikan sebagai sistem terbuka. Pendekatan ini mengharuskan lembaga-lembaga itu menaruh perhatian kepada masyarakat, mengamati aspirasi mereka, kebutuhan mereka, kemampuan dan kondisi mereka. Menejer pendidikan bersama warga masyarakat mencoba mencari jalan keluar dan mewujudkannya dalam lembaga pendidikan untuk keputusan bersama.
Namun, keputusan bersama yang telah dicapai tidak berarti usaha lembaga dengan masyarakat sudah berhenti sampai disitu, melainkan terus berkelanjutan. Sebab aspirasi, kemampuan, kebutuhan, dan kondisi masyarakat tidak statis atau konstan, ia selalu berubah sesuai dengan pengaru-pengaruh masyarakt yang lebih luas. Perubahan-perubahan lembaga pendidikan ini yang dilakukan dengan pendekatan situasional akan lebih mudah diwujudkan oleh menejer pendidikan bila mereka mengadakan kontak hubungan dan kerja sama dengan masyarakat.
Setiap aktivitas lembaga pendidikan , terutama yang bersifat inovatif, sepatutnya dikomunikasikan terlebih dahulu kepada masyarakat/oran tua. Agar mereka sebagai salah satu penanggung jawab lembaga pendidikan tahu dan dapat memahami mengapa aktivitas tersebut diadakan. Pemahaman ini akan menghindarkan suasana tegang pada lingkungan belajar, yaitu ;embaga pendidikan dan masyarakat sekitarnya. Seperti dilakukan oleh beberapa sekolah dalam menentukan besar sumbangan pembangunan gedung misalnya, selalu didahulukan dengan komunikasi antar sekolah dengan orang tua siswa disertai dengan deskripsi penggunaanya.

Secara terinci manfaat hubungan lembaga pendidikan dengan masyarakat adalah sebagai berikut :
Manfaat hubungan lembaga pendidikan dengan masyarakat
Bagi lembaga pendidikan Bagi masyarakat
1. Memperbesar dorongan mawas diri
2. Mempermudahkan memperbaiki pendidikan
3. Memperbesar usaha meningkatkan profesi pengajar
4. Konsep masyarakat tentang guru/dosen menjadi benar.
5. Mendapatkan koreksi darikelompok masyarakat
6. Mendapatkan dukungan moral dari masyerakat
7. Memudahkan meminta bantuan kepada masyarakat
8. Memudahkan pemakaian media pendidikan masyarakat
9. Memudahkan pemanfaatan nara sumber 1. Mengetahui hal-hal persekolahan dan inovasinya
2. Kebutuhan-kebutuhan masyarakat tentang pendidikan lebih mudah diwujudkan
3. Menyalurkan kebutuhan berpartisipasi dalam pendidikan
4. Melakukan usul-usul terhadap lembaga pendidikan

 

METODE EKLEKTIK ( الطريقة المختارة )

0

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbilalamin segala puja serta puji syukur kita kehadirat ALLAH SWT yang telah menjadikan ilmu pengetahuan sebagai imam segala amal, dan Dia juga telah menjadikan ilmu pengetahuan sebagai kunci kebahagiaan dunia dan akhirat.
Shalawat beserta salam semoga tetap tercurahkan buat baginda alam nabi besar Muhammad SAW yang telah menganjurkan umatnya untuk senantiasa menuntut ilmu walau ke negeri Cina, dan yang telah mewajibkan umatnya untuk menutut ilmu sepanjang hayat, sehingga kita bisa menjadi umat yang paling bermartabat.
Terima kasih pula kami ucapkan kepada bapak dosen pengampu mata kuliah Pembelajaran Bahasa Arab yang telah membimbing kami dalam menyelesaikan penyusunan makalah bahasa arab yang sederhana ini.

Kami sadari bahwa kami hanyalah manusia biasa yang tak pernah luput dari salah dan lupa, maka atas itulah apabila dalam penyusunan makalah ini terdapat kekurangn dan kesalahannya, maka kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi para penyusun secara pribadi, dan para pembaca secara umum.

Mataram, 29 Mei 2012

( Penulis )

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ……………………………………………………………………….. I
DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………………. II
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG ……………………………………………………………… III
B. RUMUSAN MASALAH ………………………………………………………….. IV
C. TUJUAN ………………………………………………………………………………. ….. IV
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Metode Elektik ……………………………………………………….. … 1
B. Asumsi Yang Mendasari Munculnya Metode Elektik …………………… 2
C. Bentuk-Bentuk Penggabungan Dalam Metode Elektik …………………. … 2
D. Ciri-Ciri Pengajaran Bahasa Arab Dengan Menggunakan Metode Elektik 4
E. Sistem Pengajaran Bahasa Arab ……………………………………………….. … 4
BAB III
PENUTUP
A Kesimpulan …………………………………………………………………………….. 8
B Daftar Pustaka ………………………………………………………………………… 9

BAB I
PEENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG

Keberhasilan suatu proses belajar mengajar tidak akan lepas dari metode yang akan dipakai karena metode pengajaran merupakan salah satu faktor yang berperan penting dalam proses pembelajaran. Peran suatu metode sangatlah besar dalam suatu pembelajaran dan bersangkutan juga dengan siswa yang menjadi objek pembelajaran. Tepat tidaknya guru dalam memilih metode pembelajaran adalah salah satu faktor keberhasilan seorang guru.
Banyak sekali metode-metode dalam pengajaran bahasa yang sesungguhnya memiliki perbedaan-perbedaan antara satu dengan lainnya yang mungkin diakibatkan oleh teori-teori bahasa yang berbeda, jenis-jenis deskripsi bahasa yang beragam dan ide-ide yang beraneka ragam tentang belajar bahasa termasuk bahasa Arab.
Setiap metode memiliki segi-segi kekuatan dan kelemahan. Sebuah metode lahir karena ketidak puasan terhadap metode lain sebelumnya, tapi pada waktu yang sama metode baru itu terjebak dalam kelemahan yang dahulu menjadi penyebab lahirnya metode yang dikritiknya itu. Metode-metode datang silih berganti dengan kekuatan dan kelemahan yang datang silih berganti pula.
Pengajaran bahasa asing selalu menghadapi kondisi objektif yang berbeda-beda antara satu negeri dengan yang lain, antara satu lembaga dengan lembaga yang lain, antara satu kurun waktu dan kurun waktu yang lain. Kondisi objektif itu meliputi tujuan pengajaran, keadaan guru, keadaan siswa, sarana prasarana dan lain sebagainya. Dan berdasarkan kenyataan di atas muncullah metode Eklektik yang mengandung arti pemilihan dan penggabungan.

B. RUMUSAN MASALAH
a. Apakah yang dimaksud dengan metode eklektik ?
b. Bagaimanakah latar belakang munculnya metode eklektik ?
c. Bagaimanakah bentuk pengajaran yang menggunakan metode eklektik ?

C. TUJUAN
a. Mengetahui pengertian metode elektik
b. Mengetahui asuumsi yang mendasari munculnya metode elektik
c. Mengetahui bentuk-bentuk penggabungan dalam metode elektik
d. Mengetahi kelemahan dan kelebihan metode elektik

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Metode Elektik
Metode eklektik adalah metode pilihan dan gabungan dari dua metode atau lebih.
Eklektik adalah istilah yang kadang-kadang digunakan bagi praktek pemakaian ciri-ciri beberapa metode yang berbeda dalam pengajaran bahasa. Metode eklektik, mengandung arti pemilihan dan penggabungan. Di dalam bahasa Arab, metode ini disebut dengan beberapa nama, antara lain, Thariqah al-Intiqo’iyyah ( الطريقة اللإنتقائية ), Mukhtarah ( الطريقة المختارة ), Taufiqiyyah ( الطريقة التوفيقية ), Mazdujah( الطريقة المزدوجة). Perlu ditegaskan bahwa penggabungan metode-metode ini hanya bisa dilakukan antar metode yang sehaluan. Dua metode yang asumsinya atau tujuannya bertolak belakang tentu tidak tepat untuk digabungkan.
Metode eklektik berkaitan erat dengan subjektifitas pengajar. Sang pengajar seringkali dihadapkan dengan keharusan hanya memilih prosedur yang paling esensial untuk dipakai di dalam kelas dengan cara yang paling efisien. melukiskan secara tepat kaitan erat antara eklektisisme dengan subjektifisme sebagai yang tidak “memberi sesuatu bimbingan mengenai dasar apa dan dengan prinsip-prinsip apa”, semua aspek metode-metode yang berbeda itu dapat diseleksi dan dikombinasikan, dapat dipilih dan digabung.
Al-‘araby (1981) menjelaskan, metode eklektik ini bisa menjadi metode yang ideal apabila didukung oleh penguasaan guru secara memadai terhadap berbagai macam metode, sehingga dapat mengambil secara tepat segi-segi kekuatan dari setiap metode dan menyesuaikannya dengan kebutuhan program pengajaran yang ditanganinya, kemudian menerapkannya secara proporsional.
Sebaliknya metode eklektik bisa menjadi metode “seadanya” atau metode “semau guru” apabila pemilihannya hanya berdasarkan “selera guru” ataudasar “mana yang paling enak dan paling mudah” bagi guru.
Akan tetapi, dari arti etimologi “eklektik” dan beberapa uraian di atas, kami dapat menyimpulkan bahwa metode eklektik itu adalah metode pilihan dan gabungan dari dua metode atau lebih. Di dalam bahasa Arab metode ini disebut dengan beberapa nama, antara lain:
الطريقة الإنتقائية، الطريقة المختارة، الطريقة التوفيقية، الطريقة المزدوجة
B. Asumsi Yang Mendasari Munculnya Metode Elektik
a. Tidak ada metode yang ideal karena masing-masing metode memiliki segi kelemahan dan segi kelebihan.
b. Setiap metode memiliki kekuatan yang bisa dimanfaatkan untuk mengefektifkan pengajaran.
c. Lahirnya metode baru harus dilihat tidak sebagai penolakan kepada metode lama, melainkan sebagai penyempurnaan;
d. Tidak ada satu metode yang cocok untuk semua tujuan, semua guru, semua siswa, dan semua pengajaran;
e. Yang terpenting dalam pengajaran adalah memenuhi kebutuhan pelajar, bukan memenuhi kebutuhan suatu metode;
f. Setiap guru memiliki kewenangan dan kebebasan untuk memilih metode yang sesuai dengan kebutuhan pelajar.
C. Bentuk-Bentuk Penggabungan Dalam Metode Elektik
Ada beberapa bentuk penggabungan dalam metode eklektik, diantaranya ialah:
1) Sadtono (1978) menyarankan agar porsi manipulatif dan komunikatif dalam pengajaran diatur secara gradual.
2) Beberapa ahli pengajaran bahasa di Amerika dan Eropa menyarankan beberapa model yang menjembatani latihan-latihan manipulatif dengan latihan-latihan komunikatif.
• Paulston (1971) mengenalkan 3 corak drill:
manipulatif > bermakna > komunikatif
• Rivers (1973) menggunakan istilah lain:
manipulatif > semi-komunikatif > komunikatif

3) Penyingkiran jarak waktu antara latihan manipulatif dan latihan komunikatif. Dalam metode audiolingual murni, latihan-latihan manipulatif-mekanistis bisa berjalan lebih dari 16 minggu (4 bulan), baru setelah itu diberikan latihan komunikatif. Dalam metode eklektik, jarak itu bisa dipersingkat.
4) Modifikasi dan pengembangan bahan ajar, sebagai misal untuk materi tata bahasa dari deduktif menjadi induktif, dari pengetahuan menjadi penerapan. Untuk meteri percakapan, dari materi berbentuk dialog untuk dihafalkan, dikembangkan atau ditambah dengan materi latihan yang kongkrit dan konseptual. Materi bacaan yang dalam audiolingual ditekankan pada pelafalan dan penguasaan pola-pola kalimatnya, dikembangkan dengan latihan-latihan analisis model metode membaca dan seterusnya.
5) Bentuk penggabungan yang lain bisa berupa penambahan porsi latihan membaca dan menulis, yang dalam pendekatan komunikatif kurang diperhatikan. Hal ini berkaitan dengan kenyataan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia lebih memerlukan kemampuan membaca dari pada kemampuan berbicara.
Mengajar bahasa sebetulnya merupakan suatu seni tersendiri. Kepada guru. dituntut kemampuan memilih dan menggunakan metode. Selain itu, sebelum ia memilih dan menggunakan metode itu, kepada mereka dituntut beberapa persyaratan sebagai guru bahasa yang baik. Persyaratan itu adalah sebagai guru bahasa yang baik.
Persyaratan itu adalah sebagai berikut:
1) Memiliki kemampuan berbahasa yang baik, karena dia akan dijadikan model (contoh) oleh murid. Bila guru sendiri tidak mampu memperlihatkan tingkah laku yang nampak dalam berbahasa arab, sukar diharapkan dia mendapat sambutan yang wajar sewaktu menyampaikan pengajaran kemampuan berbahasa.
2) Memiliki keterampilan sebagai instruktur yang dapat melatih anak didik dalam keempat bidang keterampilan berbahasa. Keterampilan sebagai instruktur dan fasilitator ini sangat erat kaitannya dengan penguasaan metode mengajar.
3) Mampu bertindak sebagai guru penerang pola-pola bahasa dan konsep terbaru mengenai ilmu bahasa, khususnya bahasa Arab. Dalam hal ini kepadanya dituntut selalu mengikuti perkembangan bahasa Arab dan perkembangan ilmu bahasa dan pengajarannya.
4) Memiliki rasa tanggung jawab terhadap pembinaan bahasa Arab.

D. Ciri-Ciri Pengajaran Bahasa Arab Dengan Menggunakan Metode Elektik
Adapun ciri-ciri dari pengajaran bahasa dengan menggunakan metode eklektik adalah:
1. Kemahiran berbahasa diajarkan dengan urutan bercakap, menulis, memahami dan membaca.
2. Kegiatan belajar di kelas berupa latihan (oral practice), membaca keras (reading aloud) dan Tanya jawab.
3. Dalam metode ini juga terdapat latihan menterjemahkan pelajaran gramatika secara dedukatif.
4. Digunakan alat-alat atau audio visual.
Sebagai suatu metode yang mengkombinasikan berbagai metode pengajaran, tentunya diharapkan agar kelemahan dari masing-masing metode secara terpisah dapat terhindari dan sebaliknya guru dapat memaksimalkan keuntungan masing-masing metode tersebut, tentunya berdasarkan asumsi guru yang bersangkutan serta mempunyai pengetahuan tentang berbagai metode yang digunakan secara baik.
Lebih jelasnya, berikut kelebihan pengajaran bahasa dengan menggunakan metode eklektik, yaitu:
1. Guru dapat membuat pengajaran lebih bervariasi dan lebih menarik
2. Masalah perbedaan individu, materi lingkungan belajar yang kurang menarik dapat dipecahkan.
3. Guru dapat lebih percaya diri dan meyakinkan dalam mengajarkan keterampilan berbahasa.
4. Dapat digalakkan keaktifan siswa belajar dengan sistem CBSA.
5. Guru dapat menyampaikan materi pelajaran secara lebih cepat.
6. Guru dapat menghidupkan suasana belajar mengajar di kelas.
7. Siswa akan bersemangat dalam belajar/tidak cepat jenuh
8. Dapat lebih membuat siswa berkonsentrasi pada pelajaran.
E. Sistem Pengajaran Bahasa Arab
Ada beberapa sistem dalam mengajarkan unsur-unsur bahasa dan keterampilan-keterampilan berbahasa, yaitu sistem terpisah-pisah, sistem terpadu dan sistem gabungan.

1. Sistem Terpisah-pisah
Sistem ini dalam bahasa inggris disebut Separated system atau Nizham al-furu’ ( نظام الفروع ) dalam bahasa arab. Dalam sistem ini pelajaran bahasa dibagi menjadi beberapa mata pelajaran, misalnya mata pelajaran Nahwu, Sharaf, khat dan seterusnya. Setiap mata pelajaran memiliki kurikulum (silabus), jam pertemuan, buku, evaluasi dan nilai hasil belajar sendiri-sendiri.
Kelebihan sistem ini ialah bahwa guru dan perancang kurikulum mendapatkan kesempatan yang cukup untuk memberikan perhatian khusus kepada bidang kajian atau mata pelajaran tertentu yang menurut pandangannya sangat penting.
Kelemahan dari sistem ini adalah, sistem ini mencabik-cabik keutuhan bahasa, dan menghilangkan esensi dan watak alamiyahnya. Hal ini menjadikan pengetahuan dan pengalaman kebahasaan pelajar juga terpotong-potong, sehingga tidak mampu menggunakan secara baik dan benar dalam kehidupan nyata. Pada sisi lain sistem ini juga menyebabkan ketidakseimbangan antar berbagai unsur bahasa dan keterampilan berbahasa, baik pada proses pembelajaran maupun output atau hasilnya.
2. Sistem Terpadu
Sistem ini dalam bahasa inggris disebut Integrated system/All in one system atau dalam bahasa arab disebut Nazhariyat al wahdah ( نظريات الوحدة ). Dalam sistem ini bahasa dipandang sebagai suatu kesatuan yang utuh, saling berhubungan dan berkaitan.
Kelebihan sistem ini adalah, landasan toeritisnya yang kuat, baik teori psikologi, teori kebahasaan maupun teori kependidikan.
Dari sudut psikologi, sistem terpadu ini sesuai dengan tabiat atau cara kerja otak dalam memandang sesuatu, variasi bahan dan variasi teknik penyajian menghindarkan siswa dari kejenuhan. Focus pada satu topik atau satu situasi, tapi dengan peninjauan berulang-ulang dari berbagai segi, memperkuat pemahaman siswa terhadap materi pelajaran.
Dari segi teori kebahasaan, sistem ini sejalan dengan tabiat bahasa sebagai sebuah sistem, dan sesuai dengan realitas penggunaan bahasa yang memaduakan berbagai unsur dan keterampilan berbahasa secara utuh.
Dari sudut teori pendidikan (didaktik), sistem ini menjamin terwujudnya pertumbuhan kemampuan berbahasa secara seimbang, karena semua di tangani oleh situasi dan kondisi yang sama, tidak di pengaruhi oleh keberagaman semangat dan kemampuan pengajar.
Adapun kelemahan sistem ini adalah jika diterapkan pada tindak lanjut kurang dapat memenuhi keperluan mendalami unsur bahasa atau keterampilan berbahasa tertentu.
Dalam praktek pembelajaran terdapat variasi bahan utama yang dijadikan basis pembelajaran, yaitu:
a. Pembelajaran berbasis topik atau teks bacaan
Bahan pelajaran utama berupa bacaan mengenai topic tetentu.dari bahan utama ini dilakukan kegiatan:
1) Pemahaman kosa kata
2) Pemahaman dan analisis isi teks
3) Penguasaan bunyi-bunyi bahasa melalui kegiatan membaca keras
4) Percakapan dengan topic yang relevan
5) Latihan menulis berdasarkan isi bacaan
6) Pemahaman teks bacaan
7) Penguasaan stuktur atau tatabahasa yang terdapat dalam teks
b. Pembelajaran berbasis situasi atau teks percakapan
Dari bahan utama ini di kembangkan menjadi berbagai kegiatan, antara lain:
1) Dramatisasi teks sampai dengan percakapan bebas
2) Latihan melafalkan dan membedakan bunyi-bunyi tertentu
3) Latihan menulis dan mengubah teks dialog menjadi narasi
4) Memahami teks bacaan yang paralel
5) Pembahasan struktur atau tata bahasa tertentu yang ada dalam teks
3. Sistem Gabungan
Sistem terpisah-pisah dalam pengajaran bahasa Arab digunakan di pondok pesantren dan madrasah sampai dengan tahun enam puluhan. Sedangkan sistem terpadu mulai diterapkan sejak pertengahan tahun tujuh puluhan di sekolah, madrasah dan sebagian pondok pesantren sampai saat ini.
Disamping itu ada lembaga yang menggabungkan kedua sistem tersebut dalam pola pengajaran bahasa arab. Sebagai contoh KMI Gontor menerapkan sistem terpadu dalam pengajaran bahasa Arab selama satu tahun. Di kelas 1 KMI itu hanya ada mata pelajaran bahasa Arab yang ditangani seorang guru dengan jumlah jam lebih dari 10 jam perminggu. Kemudian pada kelas 2 dan seterusnya diterapkan sistem terpisah-pisah dengan memecah-mecah pelajaran bahasa Arab menjadi beberapa mata pelajaran.


BAB III
PENUTUP
A Kesimpulan
Metode eklektik adalah metode pilihan dan gabungan dari dua metode atau lebih. Asumsi yang mendasari munculnya metode eklektik ini adalah bahwa: Tidak ada metode yang ideal karena masing-masing mempunyai segi-segi kekuatan dan kelemahan; Setiap metode mempunyai kekuatan yang bisa dimanfaatkan untuk mengefektifkan pengajaran; Lahirnya metode baru harus dilihat tidak sebagai penolakan kepada metode lama, melainkan sebagai penyempurnaan; Tidak ada satu metode yang cocok untuk semua tujuan, semua guru, semua siswa, dan semua pengajaran; Yang terpenting dalam pengajaran adalah memenuhi kebutuhan pelajar, bukan memenuhi kebutuhan suatu metode; Setiap guru memiliki kewenangan dan kebebasan untuk memilih metode yang sesuai dengan kebutuhan pelajar.Bentuk-bentuk penggabungan dalam metode eklektik adalah dengan: Porsi manipulatif dan komunikatif dalam pengajaran diatur secara gradual; Menjembatani latihan-latihan manipulatif dengan latihan-latihan komunikatif;
Penyingkiran jarak waktu antara latihan manipulatif dan latihan komunikatif; Modifikasi dan pengembangan bahan ajar; dan Bentuk penggabungan yang lain bisa berupa penambahan porsi latihan membaca dan menulis.